Minggu, 20 November 2016

TANDA-TANDA ILMU BERKAH

Sebagai seorang muslim kita diberi tugas oleh Allah SWT selama kita hidup di dunia ini, diantaranya:
1.  Sebagai khalifah ( pemimpin/pengganti )di bumi ini (QS. Al-Baqarah:30)
2.  Beribadah kepada Allah SWT (QS.Al-Baqarah:21-22, Adz-dzarirat:56, Al-Bayyinah:5).
3.  Menuntut ilmu ( QS.Thoha: 114, Az-Zumar:9, Al Mujadaah: 11 ).
    Dalam menuntut ilmu kita dicontohkan oleh ulama'-ulama' terdahulu, mereka sangat        
    tawadlu' terhadap guru-guru mereka, sehingga apa yang ia pelajari dari guru mereka 
    penuh dengan berkah. Mereka menuntut ilmu penuh dengan penuh keikhlasan, mereka 
    belajar bukan untuk berdebat tetapi untuk diamalkan apalagi menghina yang tidak sepaham.
    Dalam menuntut ilmu mereka tidak hanya sekedar menumpuk ilmu belaka tetapi dibarengi 
    dengan mengamalkannya, mereka juga bersikap tenang, anggun dan rendah diri terhadap 
     gurunya meskipun sudah tidak belajar lagi kegurunya ataupun sudah lebih pandai dalam
     berilmu.  
      لا حَسَدَ إلاَّ في اثنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاه اللهُ مَالاً فسَلَّطَهُ عَلى هَلَكتِهِ في الحَقَّ ورَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقضِي بِها وَ يُعَلِمُّها                                                                                                                                   
  Rasululloh Bersabda :
" Tidak diperbolehkan iri kecuali pada dua hal; Seorang laki-laki yang Alloh karuniai harta lantas ia membelanjakannya di jalan yang benar dan seorang yang Alloh karuniai hikmah (ilmu) lantas ia beramal dengannya serta mengajarkannya" [ H.R. Bukhari & Muslim ] 
         
Dalil akan pentingnya ikhlas beramal di antaranya firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء

Padahal mereka tidakdisuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus… (QS. al-Bayyinah [98]: 5)
Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membantah orang bodoh, atau berbangga di hadapan ulama atau mencari perhatian manusia, maka dia masuk neraka. (HR. Ibnu Majah 253, Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini hasan dalam al-Misykah 225)
Imam ad-Daruqutni berkata: “Dahulu kami menuntut ilmu untuk selain Alloh, akan tetapi ilmu itu enggan kecuali untuk Alloh.” (Tadzkiratus Sami hal. 47, lihat Ma’alim fi Thoricj Tholibil llmihal. 20)[ii]
Imam asy-Syaukani berkata: “Pertama kali yang wajib bagi seorang penuntut ilmu adalah meluruskan niatnya. Hendaklah yang tergambar dari perkara yang ia kehendaki adalah syariat Alloh, yang dengannya diturunkan para Rosul dan al-Kitab. Hendaklah penuntut ilmu membersihkan dirinya dari tujuan-tujuan duniawi[iii], atau karena ingin inencapai kemuliaan, kepemimpinan dan Iain-lain. Ilmu ini mulia, tidak menerima selainnya.” (Adabut Tholab wa Muntaha al-Arab hal. 21)
Apabila keikhlasan telah hilang ketika belajar, maka amalan ini (menuntut ilmu) akan berpindah dari keutamaan yang paling utama menjadi kesalahan yang paling rendah!. (at-Ta’liq as-Tsamin hal. 18)

Guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu agama yang mulia ini. Para pewaris nabi begitu julukan mereka para pemegang kemulian ilmu agama. Tinggi kedudukan mereka di hadapan Sang Pencipta.
Ketahuilah saudaraku para pengajar agama mulai dari yang mengajarkan iqra sampai para ulama besar, mereka semua itu ada di pesan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bersabda,

ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami).

     
Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata,
كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا
“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).
Ibnu Abbas seorang sahabat yang ‘alim, mufasir Quran umat ini, seorang dari Ahli Bait Nabi pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiallahu anhu dan berkata,
هكذا أمرنا أن نفعل بعلمائنا
Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami”.
    Mungkin hanya ini yang dapat saya tulis, mohon maaf bila ada kesalahan dan semoga mermanfaat. Wassalam.

   

GADIS MALAYSIA GERRY MAHESA~THE ROSTA

Jumat, 28 Oktober 2016

JADIKAN DIRI KITA BERSAMA ALLAH SWT.


HATI DEKAT DENGAN ALLAH



 وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
 Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (QS. Ibrahim: 34).

Kita tak pernah lepas dari rahmat dan pemberian Allah swt, baik itu yang iman pada Allah maupun yang ingkar kepada-Nya. Tanda-tanda kita bila dekat pada Allah :
1. Selalu mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepada kita.

  وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
    Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (QS. Ibrahim: 34).

    Kalimat bersyukur mungkin mudah kita ucapkan tetapi sulit bagi kita melakukannya. Mencobalah kita
    mensyukuri apa yang ada di dalam diri kita, mulai dari mata, apakah mata kita pergunakan untuk melihat
    dan menyadari akan ayat-ayatnya baik yang tersirat maupun yang tersurat, karena mata sebagai jendela
    kita menuju syurga atau neraka. Lalu mulut, apakah mulut kita dipergunakan untuk mengucapkan kalimat
    yang baik, baik itu kepada yang menciptakan kita maupun terhadap sesama ciptaan-Nya, demikian juga
    yang lainnya.

2.  Selalu ingat kepada Allah ( dzikirullah )
   
          فَاذْكُرُونِي أذْكُرْكُمْ
      
Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (Al–Baqarah :152)

 وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ
 
 “Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir pada Allah, baik laki-laki maupun wanita, Allah menyediakan keampunan dan pahala besar”.   (Al-Ahzab :35)
  Melalui kita mengingat kepada Allah bukti di dalam diri kita selalu bersama Allah swt. Dengan jelas
  Allah memberikan suatu pegangan yang sempurna kepada kita agar hati kita merasa bahwa Allah tetap
  bersama kita, baik kita dalam keadaan dalam kenikmatan atau dalam kesulitan dan menjadikan hati kita
  dalam ketenangan.

3. Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah

4. Tetap berpegang teguh pada hukum Allah

5. Meninggalkan sesuatu yang tiada berguna atau tiada bermanfaat.

Mungkin hanya ini terlebih dahulu yang saya tulis semoga bermanfaat. Amiin......wassalam!!